MeteorNews ** INDRAMAYU | Aksi unjuk rasa ratusan warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Untuk Keadilan (AMUK) Sukajati di depan Kantor Kuwu Sukajati, Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Rabu (28/10/2026), berlangsung dengan sejumlah aksi teatrikal yang menyita perhatian.
Massa tidak hanya menyampaikan tuntutan melalui orasi dan spanduk, tetapi juga membawa keranda mayat berisi tumpukan karung beras bantuan pangan.
Aksi tersebut menjadi simbol protes warga terhadap dugaan penimbunan satu ton beras bantuan pangan yang mereka persoalkan.Keranda yang identik dengan
kematian itu dimaknai para demonstran sebagai gambaran matinya keadilan. Mereka menilai dugaan persoalan distribusi bantuan pangan tersebut menyangkut hak masyarakat yang seharusnya menerima bantuan.
Di tengah kerumunan massa, muncul pula sosok berkostum Power Rangers yang ikut memikul karung beras. Kehadirannya menjadi bagian dari satir dalam aksi tersebut, menggambarkan kekecewaan warga terhadap pihak yang mereka harapkan mampu melindungi dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Melalui simbol pahlawan super itu, demonstran menyampaikan kritik bahwa masyarakat membutuhkan tindakan nyata untuk memastikan hak penerima bantuan pangan terpenuhi.
Koordinator aksi, Nanang Khaerul, menegaskan bahwa pihaknya menilai temuan beras tersebut perlu ditindaklanjuti secara serius oleh pihak berwenang.
"Temuan satu ton beras bantuan pangan ini sudah sangat layak dan kuat sebagai bukti korupsi serta perbuatan melawan hukum," ujar Nanang di sela-sela orasi.
Pernyataan tersebut merupakan penilaian pihak demonstran. Kepastian mengenai ada atau tidaknya tindak pidana, termasuk dugaan korupsi, tetap memerlukan pemeriksaan dan pembuktian oleh aparat penegak hukum.
Telur Melayang, Simbol Kekecewaan WargaKetegangan aksi berlanjut ketika sejumlah demonstran melemparkan telur ke arah poster bergambar Kuwu Sukajati dan suaminya yang menjabat sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Aksi tersebut menjadi simbol kekecewaan massa terhadap kepemimpinan dan mekanisme pengawasan pemerintahan desa. Para demonstran menyoroti dugaan persoalan dalam penyaluran bantuan pangan serta mempertanyakan fungsi pengawasan di tingkat desa.
Mereka juga menyampaikan kritik terkait hubungan jabatan di lingkungan pemerintahan desa yang dinilai perlu mendapat perhatian dalam konteks pengawasan dan transparansi.
Namun, tudingan mengenai penimbunan beras, dugaan korupsi, maupun persoalan pengawasan tersebut perlu diuji melalui klarifikasi pihak terkait dan pemeriksaan sesuai ketentuan hukum.
Aksi AMUK Sukajati ini menempatkan persoalan bantuan pangan sebagai sorotan utama. Bagi warga yang menyuarakan protes, tuntutan mereka bukan sekadar mengenai keberadaan beras, melainkan juga menyangkut transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desa.
Pemerintah Desa Sukajati maupun hasil pemeriksaan resmi atas dugaan penimbunan beras tersebut masih menjadi tanda tanya karena sampai aksi berakhir pihak aparat desa belum ada yang bisa di konfirmasi. ( Inoy )
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!